Senin, 07 Juli 2008

Manokwari Guide| Papua Barat | Indonesia | Kehutanan

Manokwari Guide| Papua Barat | Indonesia | Kehutanan

Umbi-umbian, pisang, dan sagu merupakan makanan ke­gemaran suku-suku di Papua. Petani tradisional menanam tanaman pangan tersebut dengan sistem pertanian tradisional di tengah-tengah hutan, tanpa menyiapkan lahan khusus untuk areal penanaman. Bahkan, tidak ada perawatan khusus seperti pemupukan dan pemberantasan hama.

Namun, jangan dianggap pertanian pada umumnya masih menerapkan sistem pertanian tradisional. Sebab dari sektor ini kegiatan ekonomi kabupaten bergulir. Data menunjukkan 59,65 % kegiatan ekonomi didominasi oleh sektor tersebut dengan andalan berupa hasil hutan, tanaman pangan, dan perikanan.

Hutan menjadi penyumbang terbesar kegiatan ekonomi tahun 2001, nilainya
Rp 190 milyar. Tahun 2001 nilainya mengalami penurunan 3,8 % dari tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan karena larangan ekspor kayu bulat (log) oleh pemerintah. Padahal, hasil hutan terbanyak berasal dari jenis kayu ini.

Potensi kehutanan yang menghasilkan kayu, non kayu, dan anggrek hutan ini didukung oleh kawasan hutan yang lu­asnya mencapai 63,22 % dari luas wilayah kabupaten. Tidak semuanya berfungsi sebagai hutan produksi tentunya. Malahan 75 % wilayahnya merupakan hutan lindnhg atau cagar alam.

Hutan produksi menghasilkan 79 jenis kayu komersial seperti merbau, matoa, dan meranti yang merupakan andalan ekspor. Pengelolaannya diserahkan kepada perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang jumlahnya sekitar
7 buah. Di antaranya PT Kayu Lapis Indonesia dan PT Djayanti Group. Penyumbang kegiatan ekonomi terbesar ini ternyata tidak diikuti oleh besarnya tenaga kerja. Hanya 4,6 % penduduk usia kerja yang hidup dari usaha itu.

Tidak ada komentar: